Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Berita Terkini

TIDAK CERDAS ATAU TIDAK TAHU ?

Jumat, 05 Februari 2016 | Februari 05, 2016 WIB | 0 Views Last Updated 2022-12-13T17:34:13Z
Penulis : Kapten Czi Muklasin (Pasi Log Kodim 0809/Kediri)
Suatu hari saya mengisi suatu acara yang berkaitan dengan pembinaan cinta tanah air dan bangsa, di suatu sekolah SMPN di Kabupaten Kediri, satu minggu
yang lalu. Pada menit pertama sebelum saya memberikan wawasan kebangsaan, ada satu pertanyaan pokok yang harus dijawab dengan spontanitas.

Untuk memberi dorongan kepada siswa siswi agar bersedia maju didepan dan menjawab pertanyaan tersebut, saya keluarkan uang sebesar Rp 50 ribu, bagi siswa siswi yang bisa menjawab dengan benar. Pertanyaan tersebut sangatlah mudah dan tidak perlu menguras otak, layaknya pelajaran matematika ataupun fisika, setiap siswa cukup menyebutkan 5 sila yang termuat dalam Pancasila.

Betapa terkejutnya saya, dari siswa yang maju terlebih dahulu ternyata salah, kemudian kesalahan kedua kalinya dilanjutkan pada siswa yang maju berikutnya, dan barulah siswa yang ketiga bisa menjawab dengan benar. Bila dipikir secara akal sehat, kedua siswa yang maju duluan adalah siswa yang masuk rangking 10 besar di kelasnya.

Sempat terlintas dalam pikiran saya, apakah uang Rp 50 ribu masih kurang berarti bagi mereka atau karena faktor lupa jadi alasan utama. Perlu dipikirkan secara jernih, dalam posisi intelektual seseorang yang terukur dalam deretan rangking di kelas, sudah pasti adalah urutan kecerdasan siswa dari berbagai mata pelajaran, dan mereka 10 tertinggi di kelasnya dari sekian banyak jumlah siswa dalam satu kelas.

Tidak dapat diragukan lagi, bahwa sekolah telah mengurutkan kecerdasan siswa berdasarkan nilai yang diperoleh, sudah tepat. Tetapi bagaimana mungkin, pertanyaan yang begitu mudah tidak bisa dijawab dengan benar, oleh siswa yang ditempatkan diposisi 10 teratas.

Sedikit menoleh kebelakang, siswa siswi SD hingga SMA di era 80an hingga 90an, tidak ada satupun pernah terdengar, seorang siswa siswi tidak hafal 5 sila yang termuat dalam Pancasila. Sekali lagi kita menoleh kebelakang, di era 80an hingga 90an teknologi informasi terbatas hanya pada buku, kalaupun ada televisi, itupun hanya 1 pandangan saja, yaitu TVRI, demikian juga radio, dari pagi sampai malam hari, terlalu monoton regulasi acaranya, atau koran, yang tidak lebih dari jumlah jari tangan.

Sekarang kita menatap kembali kedepan, media informasi begitu berjubel, dari internet, radio yang acaranya begitu kreatif, televisi yang penuh inovatif acaranya, koran yang berjejer berbagai jenis pilihan, bahkan media telekomunikasi berbentuk ponsel, sudah begitu banyak dimiliki siswa siswi saat ini.

Pertanyaannya, kenapa 5 sila yang termuat dalam Pancasila, mereka tidak hafal, apakah karena kelalaian atau mungkin adanya faktor yang lain. Perlu ditimbang dengan seimbang, antara jaman dulu dengan jaman sekarang, terlepas dari peta politik dan ekonomi yang berdampingan di 2 jaman yang berbeda. Berpikir secara positif, buang pikiran negatif, pengetahuan, pengertian dan pemahaman Pancasila dan UUD 1945 dari titik 0 hingga titik terakhir di jenjang pendidikan, selalu berdampingan dan berkaitan erat satu sama lain, di era 80an hingga 90an.

Tragis bila di era modern saat ini, dasar pokok negara, yang dibangun dengan tetesan darah dan perjuangan tanpa pamrih itu, tercoreng oleh generasi yang digadang-gadang sebagai generasi emas. Fakta saat ini lebih bisa didengar dan dilihat daripada sekedar teori yang ditulis hingga menghabiskan bertumpuk-tumpuk kertas.



×
Berita Terbaru Update