Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Berita Terkini

FAKTA RADIKALISME DIBALIK TERORISME

Jumat, 05 Februari 2016 | Februari 05, 2016 WIB | 0 Views Last Updated 2022-12-13T17:34:12Z
Penulis : Kapten Kav  Puguh Bintarto (Danramil Semen-Kodim 0809/kediri)
Banyak orang salah mengartikan bahwa terorisme adalah bagian dari radikalisme atau menyerupai radikalisme.
Padahal dua hal tersebut berbeda. Radikalisme sendiri berawal dari istilah “Radikal” atau “Radical” dalam Bahasa Inggris, atau “Radix” dalam Bahasa latin berarti “Akar”.

Pertama kali digunakan pada akhir abad ke-18 untuk menggambarkan pendukung gerakan perubahan yang menginginkan reformasi politik lewat perubaha besar dalam masyarakat.

Terjemahan bebas dari kata gerakan radikal adalah gerakan perubahan yang mengakar atau mendasar, contohnya adalah keinginan sekelompok orang yang ingin mengubah idiologi Negara. Pemikiran radikal sebenarnya harus difikirkan secara matang-matang, namun dalam perkembangannya pemikiran radikal sering dibarengi oleh oknum-oknum anarkis dan Vandalisme (kegiatan kriminal yang menghancurkan, merusak).

Faktanya Terorisme lebih mendekati Vandalisme, daripada Radikalisme. Aksi para teroris bukan merupakan gerakan radikal yang sesungguhnya. Karena terorisme hanya menyebar rasa takut, bukan merupakan sebuah perubahan yang radikal. Terorisme sendiri juga lebih sulit dilacak di zaman ini. Hal ini dikarenakan pola rekruitmen pelaku teroris sering berubah-ubah. Jika ada suatu pola rekuitmen telah diketahui oleh masyarakat luas (dipublikasikan) maka pola tersebut akan diubah atau berganti dengan pola lainnya. Masalah yang lebih kompleks adalah Terorisme saat ini sudah mendunia. Selain telah mendunia, terorisme saat ini juga telah berkembang pesat, seperti jaringannya yang telah berkembang luas, teroris semakin sulit dikenali identitasnya, idiologinya sudah mengarah ke religious atau keagamaan (kebanyakan berkedok organisasi keagamaan), target teroris semakin tersebar diseluruh dunia, dan teroris semakin tidak pandang bulu.

Radikalisme dan terorisme kini menjadi musuh "baru" umat manusia. Meskipun akar radikalisme telah muncul sejak lama, namun peristiwa peledakan bom akhir-akhir ini seakan mengantarkan fenomena ini sebagai "musuh kontemporer" sekaligus sebagai "musuh abadi". Berbagai kemungkinan motif teror memang sepatutnya perlu diwaspadai. Karena kenyataannya diakui atau tidak terorisme nyata-nyata terus menghantui, walaupun beberapa pelaku aksi terorisme sudah ditemukan. Dalam konteks Indonesia, misalnya, dalam kurun waktu antara sepuluh tahun terakhir, tercatat puluhan kali aksi peledakan bom. Dari sekian peristiwa peledakan bom yang terjadi, adanya motif yang bernuansa agama memang tak bisa dipungkiri. Namun demikian, motif politik dan kepentingan intelijen justru yang paling banyak terkuak, selain motif kriminal murni.

Terlepas dari berbagai motif itu, penting pula untuk melihat terorisme dari "perspektif lain". Perspektif baru mengenai teror seringkali dibuat terlalu sederhana atau bahkan simplistis. Namun dalam konteks lain, teror sejatinya tidak semestinya hanya dipandang sebatas peristiwa peledakan bom, tapi juga teror lainnya yang juga mengancam rasa aman masyarakat. Termasuk dalam kategori teror ini adalah korupsi, bahaya narkoba, dan ancaman kemanusiaan lainnya seperti penganguran, penggusuran, dan lain-lain.

Namun demikian, point terpenting dari upaya untuk memutus mata rantai radikalisme dan terorisme adalah dengan memperkuat dan mempererat "rantai" keinsyafan bersama baik di level struktural maupun di ranah societal untuk menjadikan radikalisme dan terorisme sebagai musuh bersama.


×
Berita Terbaru Update