Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Berita Terkini

IMLEK DAN KEMAJEMUKAN NUSANTARA

Jumat, 05 Februari 2016 | Februari 05, 2016 WIB | 0 Views Last Updated 2022-12-13T17:34:13Z
Penulis : Mayor Arh Trijaka Ruhiyatna (Kasdim Kodim 0809/Kediri)

Tahun baru iImlek merupakan perayaan terpenting bagi warga keturunan Tionghoa, secara tradisi turun temurun memang cenderung mengarah pada Kong Hu Chu, tetapi seiring dengan perkembangan zaman ,tahun baru imlek dirayakan tanpa harus berlatarbelakang Kong Hu chu. Perayaan tahun baru imlek dimulai di hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas. Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chuxi yang berarti “malam pergantian tahun”.

Ditilik dari sejarah, sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan permulaan sesuatu tahun masih belum jelas. Ada kemungkinan bahwa awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di China. Bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalendar Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang dan Zhou. Kaisar pertama China Qin Shi Huang menukar dan menetapkan bahwa tahun tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang.

Kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari kemajemukannya, termasuk salah satunya adalah etnis. Berbagai etnis tumbuh berkembang di negeri ini ,jauh sebelum Proklamasi dikumandangkan. Dari etnis arab, india dan tionghoa, baik di masa kolonial belanda hingga jepang, sampai negeri ini menyatakan lepas dari belenggu penjajahan, telah berbaur dan menyatu dalam ruang lingkup yang sama dengan pribumi ,pada akhirnya perkawinan lintas etnis tak terhindarkan lagi.

Terlepas dari segala perbedaan latarbelakang, kemajemukan di bumi nusantara seiring berjalannya sang waktu ,secara tidak langsung maupun langsung berdampingan dengan budaya yang mengarah pada identitas etnis. Budaya non pribumi telah menyatu dengan budaya lokal, tanpa disadari atau disadari, telah memperbanyak kasanah budaya di bumi nusantara ini, salah satunya adalah tradisi tahun baru imlek.

Kendati identitas etnis tidak bisa dihilangkan begitu saja dari kodrat yang telah ditetapkan, baik itu warna kulit, rambut atau mata, semua pikiran, pandangan dan perilaku sosial kemasyarakatan, tetaplah wajib dan harus dalam satu konsep yang tidak boleh diganggu gugat, yaitu Pancasila. Logat bahasa boleh beda, tata krama masih bisa ditoleransi bila terjadi perbedaan dan budayapun tidak perlu dipermasalahkan bila tidak ada kesamaan, tetapi ideologi tetap harus satu kesatuan dalam Pancasila, itupun tidak boleh ditawar dengan alasan apapun.

Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, telah mematok harga mati bagi setiap Warga Negara Indonesia , baik yang pribumi maupun yang keturunan ,"Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa" menjadi satu-satunya dasar pokok ,dalam memperjuangkan dan mewujudkan persatuan bangsa, baik dalam kehidupan bersosial masyarakat maupun ketika sebagian anak-anak bangsa ini mulai dijangkiti penyakit sektarian sempit, fanatisme yang kebablasan, dan egoisme kelompok dan golongan yang mengorbankan persatuan dan kesatuan bangsa.

Mengutip dari syair Khalil Gibran (dalam terjemahan bebas), "Indahnya Libanon akan dibutakan bila Aram (sekarang Armenia) tidak duduk, Kurdi (suku yang tinggal di utara irak, barat iran dan selatan turki) tidak tidur , Samaria (suku di selatan suriah) tidak berdiri. Karena Damaskus (kota di suriah) akan jauh dari pandangan dan Mosul (kota di iraq) akan hilang dari pendengaran. Akibatnya, air hujan akan menetes di Siprus (pulau di barat Libanon) dan hanya awan diatas Libanon. Ketika melihat wajah Libanon ,Mesir langsung tertawa, tetapi Koptik (mazhab Orthodox) langsung merangkul Maronit (mazhab Orthodox) dan membahagiakannya, lalu Maronit bersukacita dalam pelukan Maria".

Menurut penjabaran versi Boutros Boutros Ghali, mantan Sekjen PBB, syair tersebut bermakna (dalam terjemahan bebas), “Dunia nampak indah ,karena berbagai etnis berkumpul , berbagai agama bergandengan tangan dan berbagai budaya berpawai. Tetapi bila keanekaragaman etnis, agama dan budaya hilang di bumi, manusia hanya bisa berjalan sendirian dan duduk termenung. Tidak ada keseimbangan sosial dan sumber inspirasi yang ada di kehidupan manusia, pada akhirnya hilang identitas dan pandangan kemanusiaan. Tetapi bila kesadaran akan keberagaman dan perbedaan tetap sebagai bagian dari kehidupan manusia, kehidupan di dunia ini akan tetap berlangsung damai”. 
   
Selamat Tahun Baru Imlek, “Gong Xi Fa Cai”, jadilah manusia Indonesia yang berpakaian Merah Putih, berperilaku Pancasila ,berkehidupan sosial sesuai UUD 1945 dan bertuliskan NKRI di dalam dada masing-masing, serta bersuara Indonesia Raya.


×
Berita Terbaru Update