Penulis : Kapten Arh Ajir (Danramil Pare-Kodim 0809/kediri)
Mitos Totok Kerot sulit sekiranya dihilangkan begitu saja dari ingatan sebagian besar masyarakat Kediri, baik kejanggalan maupun penampakan disekitar lokasi yang masih penuh tanda tanya dan belum terjawabkan. Di era tahun 1930an patung ini sempat dipindahkan tapi gagal terwujud, karena patung ini entah kenapa dan bagaimana kronologinya, kembali ketempat semula. Kejadian itu terulang kembali di tahun 1962, dimana patung ini sengaja untuk diamankan dan dimasukkan ke dalam museum, tetapi akhirnya kembali lagi. Penampakan berwujud sosok tinggi besar dengan bayangan hitam, kerap sekali muncul secara tiba-tiba tanpa diduga oleh siapapun.
Totok Kerot di masa modern tinggal damai di pinggiran areal persawahan, beristirahat dari tugasnya menjaga bangunan penting pada masa kejayaan Kerajaan Kediri, pada waktu lampau. Arca setinggi kurang lebih 3 meter itu masih terus menyimpan berbagai misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini. Ditambah berbagai bukti-bukti arkeologi masih belum mampu menuntun secara jelas siapa dibalik Totok Kerot itu dan bagaimana riwayat sejarah yang sebenarnya, hanyalah mitos dari dongeng atau cerita rakyat yang mengungkapkannya, tanpa bukti yang jelas.
Menurut cerita rakyat, arca Totok Kerot berasal dari seorang putri, penguasa Jawa Timur bagian selatan. Totok Kerot, dimana tak dapat diceritakan mengapa dipilih dwarapala berwujud raseksi, tidak sebagaimana lazimnya dwarapala lain yang berwujud raksasa laki - laki. Tidak pula tentang bangunan besar apa yang dijaga oleh Totok Kerot pada masa itu sehingga harus diwujudkan oleh penjaga wujud yang tak lazim, yakni raksasa perempuan.
Legenda menuturkan adanya seorang penguasa putri sakti dan cantik rupawan berada di daerah Lodaya, terletak di Kabupaten Blitar di masa sekarang. Sebut saja namanya Putri Lodaya. Sang Putri berkeinginan untuk menjadi 'garwa padmi' atau permaisuri utama dari Prabu Sri Aji Jayabaya, seorang raja termasyur di Kediri. Namun tampaknya keinginan itu tidak kesampaian, karena Sang Jayabaya menolaknya. Penolakan itu membuat Putri Lodaya berang. Dikirimlah pasukan Lodaya untuk memerangi Kediri. Rupanya Sang Putri terlalu gegabah, karena angkatan perang Kediri yang kuat dan tersohor jelas bukan tandingan tentara Lodaya. Putri Lodaya mengalami kekalahan.
Saat dihadapkan sebagai tawanan didepan raja, Putri Lodaya mengumpat serta memaki Prabu Jayabaya. Murka Jayabaya terlontar sebagai kutukan sehingga Putri Lodaya berubah wujud menjadi patung raksasa. Selanjutnya patung Putri Lodaya dikenal sebagai Patung Totok Kerot. Cerita mistis berkembang meliputi keberadaan Totok Kerot, sebagaimana lazim dialamatkan kepada banyak peninggalan arkeologi di Indonesia. Cinta tak terbalas Totok Kerot sendiri, yakni Sang Aji Jayabaya juga tak luput dari mitos-mitos yang sebenarnya cukup sulit dibuktikan kebenarannya.
