Bekasi Raya Pos
Perlu ada konsep-konsep program pembinaan dan pengembangan kapasitas generasi muda yang disusun dan dilaksanakan secara sinergi dan simultan mencakup berbagai sektor, dengan sebanyak-banyaknya menyerap aspirasi dan mengakomodasikan berbagai kepentingan serta aspirasi masyarakat, terutama melibatkan banyak elemen dan komponen bangsa.
Untuk strategi dalam pemberdayaan pemuda tanpa adanya kerterlibatan banyak pihak, maka untuk memposisikan pemuda sebagai legislasi pelaku pembangunan bidang sosial akan mengalami hambatan untuk mencapai hasil optimal, demikian dikatakan Citra Junita Salim, caleg DPRD Kota Bekasi, dapil 6 Bekasi Utara, dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), nomor urut 7.
Pembinaan dan pengembangan kualitas sumberdaya pemuda tersebut, tidak bisa secara eksplisit hanya menitik beratkan pada sektor sosial budaya sebagai sektor tujuan yang ditargetkan dalam memposisikan pemuda sebagai pelaku legislasi pembangunan bidang sosial budaya, bagaimana sektor-sektor lain seperti pendidikan, ekonomi, dan politik, akan berpengaruh terhadap perkembangan sektor sosial budaya.
Namun demikian, tambah Citra Junita Salim, wanita kelahiran Jakarta, 23 Juni 1988 ini mengatakan, Meskipun tanpa bermaksud mengesklusifkan sektor sosial budaya sebagai sektor terpenting, namun secara faktual menunjukkan bahwa sektor ini memiliki ruang cakupan yang sangat vital bagi terciptanya stabilitas, karena di dalam sektor sosial budaya ini terdapat aspek pembinaan dan pegembangan moral serta mental attitude yang sangat diperlukan untuk memperkokoh dan sebagai standar karakter kepribadian bangsa Indonesia. Hal ini diharapkan mampu menjadi pengendali seluruh sektor kegiatan pembangunan dari kemunginan terjadinya penyimpangan.
Terbukti tanpa adanya landasan moral dan kepribadian yang kuat, berbagai penyimpangan dalam pembangunan akan mudah terjadi, seperti kondisi yang kita alami saat ini akibat melemahnya moral dan kepribadian, dan munculnya sikap ingin serba instan dan cepat dalam meraih kepuasan diri, maka kegiatan penyimpangan masih terjadi.
Padahal, tambah Caleg DPRD Kota Bekasi, Dapil 6 Bekasi Utara, dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), nomor urut 7 ini. Bangsa Indonesiadikenal oleh masyarakat internasional sebagai bangsa yang memiliki karakteristik budaya khas ketimuran, yaitu bangsa yang menjujung tinggi nilai-nilai moral, sopan santun, ramah, berbudi pekerti halus, serta agamis.
Namun dewasa ini, ketimuran tersebut mulai turun bahkan mengalami ancaman yang sangat berat karena kadar nilai moral melemah, dan terjadinya krisis jati diri dari kepribadian pada sebagian masyarakat.
Ditinjau secara makro, bisa dilihat melemahnya kadar nilai moral dan terjadinya krisis jati diri serta kepribadian sebagian masyarakat tersebut, tidak terlepas karena telah terjadinya bias pemahaman tehadap makna reformasi dan globalisasi oleh masyarakat.
Refomasi telah dimaknai sebagai suatu tuntutan perubahan cepat dan kebebasan tanpa batas, sedangkan globalisasi dimaknai sebagai sebuah tuntutan untuk dapat mencapai kemajuan dalam kehidupan dengan segera, ujar Citra Junita Salim, remaja putri lulusan Program Studi Akuntansi Universitas Indonesia tahun 2010 menutup perbincangannya. (Agus)