Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Berita Terkini

Pilkada Kata Orang-orang Pinggiran Bekasi

Jumat, 15 Februari 2013 | Februari 15, 2013 WIB | 0 Views Last Updated 2022-12-13T17:37:05Z
Bekasi Raya Pos
Matahari panas membuat urat kepala menjadi gerah, sehingga membuat penulis ingin berteduh di salah satu warung kopi sederhana yang letaknya sangat jauh di pinggiran kota bekasi, yaitu desa Sukakarya, kecamatan Sukakarya, kabupaten Bekasi.
 
“ Bu kopi sapa aku pada penjual kopi “ di pinggiran jalan raya desa,tidak berapa lama muncul ibu separuh baya sambil senyum kepada penulis, “ Kopi apa bang ? kopi hitam apa kopi susu  balik Tanya ibu penjual kopi Kopi hitam bu jawabku.

Tidak berapa lama ibu penjual kopi mengantarkan kopi pesanan ku, dan langsung aku seruput kopi yang masih panas , ketika sedang asik nyerupt kopi tiba tiba, datang dua orang pemuda masih berkaos salah satu partai pendukung calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat.

Sambil presan kopi dua pemuda memulai percakapan nya

“ Jun loh tadi ikut kampanye siapa yang kasih tahu Tanya pemuda yang satu lagi

“Gak ada yang kasih tahu bang saya ikut aja kampanye , lihat tetangga saya kampanye , lumayan bang dapat gratisan bensin dan bisa joget di arena kampanye ‘ ucapnya 

Dan obrolan mereka berdua semakin lama semakin asik, dan aku hanya menyimak sambil berkata dalam hati, loh kampanye kok hanya ikut ikutan aja, demi uang bensin dan hiburan dangdut di arena kampanye.

Ketika kopi aku habiskan , dan aku mau beranjak keluar dari warung itu, tiba tiba kedua pemuda itu berucap kepada kepada pemilik warung, mpok besok milih Gubernur siapa Tanya dua penuda tadi

Lantas dengan kata spontan ibu paruh baya itu menjawab, “ NGGAK TAHU DAH, GAK ADA YANG KENAL PERNAH KEMARI AJA NGGAK TUH CALON, TRUS ADA MAUNYA MINTA KITA DUKUNG , YA LIHAT AJA NANTI SIAPA YANG KASIH UANG CENDOLNYA ITU BARU YANG KITA COBLOS, SAMBIL BERLALU IBU SEPARUH BAYA ITU MASUK BELAKANG” 

Dan dua pemuda itu lantas menanggapai perkataan ibu paruh baya tadi, “ bener juga jun, kata empok “  dan dua pemuda berlalu pergi dari warung , aku pun ikut permisi pada penjual kopi, setelah membayar satu cangkir kopi.

Dari pembicaraan dua pemuda dan penjual kopi tersebut bisa kita ambil simpulkan, masyarakat pinggiran belum seluruhnya mengerti arti demokrasi atau pemilihan langsung calon pemimpinnya yang masyarakat tahu untuk mencoblos pasti ada uang cendolnya. M. Joko YP




×
Berita Terbaru Update